| Beberapa
mitos, asosiasi & persepsi negatif mengenai media online (internet)
yang kita jumpai saat ini:
-
Mitos
#1: SEMUA hal bisa diperoleh secara gratis di internet,
termasuk informasi. Banyak pengguna internet dan beberapa
pihak yang fanatik terhadap 'freebies content', beranggapan
bahwa semua hal yang mereka inginkan bisa diperoleh dengan gratis
di internet. Melalui search engine mereka mendapatkan berbagai
konten secara gratis (ebook, mp3, video, dokumen, login info,
dll.)
Disayangkan bahwa dengan persepsi ini, seringkali mereka tidak
mampu melihat peluang untuk menghasilkan pendapatan melalui
media online, padahal nyata-nyata diketahui bahwa internet telah
menjadi medium yang melahirkan banyak bisnis online berskala
internasional yang sukses menghasilkan jutawan muda di bidang
keahlian masing-masing, dikarenakan banyak pengguna internet
yang bersedia membayar untuk mendapatkan sesuatu yang premium,
misalnya produk informasi dengan support langsung, produk berkualitas,
dan lain-lainnya. Sebagai catatan, transaksi online retail di
USA mencapai US$39 miliar pada tahun 2007 lalu.. membuktikan
internet sungguh bukan sekedar media gratisan.
Jadi,
berapa range prospek pendapatan yang
dapat diperoleh dengan mengerjakan atau menjual sesuatu secara
online melalui internet? jawabannya adalah mulai 20 ribu rupiah
hingga 1,6 miliar Dollar (sekitar 14 triliun Rupiah) jumlah
ini adalah jumlah yang dibayarkan google pada 2 orang pendiri
youtube dengan bekerja 2 tahun saja membangun sistem video streaming
online, sumber:
http://www.techcrunch.com/2006/11/13/google-closes-youtube-acquisition
-
Mitos
#2:
Klaim bahwa SEMUA orang bisa berhasil kaya raya dengan berbisnis
di internet, dan
tinggal di sisi pantai sepanjang sisa hidup mereka.
Mitos ini masih banyak dihembuskan oleh pemasar online
yang ingin membuat hype berlebihan dan asosiasi yang keliru
mengenai keberhasilan sebuah bisnis online. Faktanya, makin
sukses seseorang di medium online, maka akan makin sibuklah
mereka untuk meningkatkan pertumbuhan bisnisnya dan juga
mempersiapkan bisnis baru lainnya.
Namun
memang benar ada pelaku bisnis online yang dapat bersantai-santai
seharian (sebagian bahkan tertidur pulas) saat system yang dimilikinya
menghasilkan pendapatan! Tapi perlu diketahui, bahwa sebelum
dapat bersantai, ia sudah melakukan pekerjaan rumah utamanya,
apakah itu membangun sebuah sistem untuk penjualan produk ataupun
merampungkan materi/layanan yang memiliki nilai bagi orang lainnya.
Jadi
mengenai pernyataan bahwa 'SEMUA' orang bisa kaya raya melalui
internet, hal ini tentu tidak akan pernah terjadi, bayangkan
apa jadinya bila semua bekerja melalui internet, maka siapa
yang akan menjadi polisi yang berjaga di jalan raya, guru untuk
mengajar anak-anak kita, tukang sampah yang membersihkan bak
sampah rumah kita, sopir taksi, dll. Tuhan memberikan keahlian,
minat dan ketermpilan yang berbeda2 pada setiap umatnya agar
mereka bisa berguna, saling melengkapi dan melayani.
Bukti
nyata lain adalah: pada industri online dapat Anda ketahui Mark
Zuckerberg, pemuda berusia 23 tahun pendiri situs Facebook yang
merupakan jutawan termuda dengan kekayaan $1,5 miliar dollar,
atau dua pendiri Google berusia 35 tahun yang telah menjadi miliarder
peringkat 55 di dunia karena usaha dan keahliannyanya untuk 'menangkap',
'menyimpan' dan 'mengklasifikasikan' miliaran informasi dan menyajikannya
secara terorganisir dan tepat waktu bagi orang-orang yang membutuhkannya,
dan tidak satupun dari mereka yang tinggal
sepanjang hari di sisi pantai.
-
Mitos
#3:
E-commerce telah booming pada tahun 2000 lalu, dan sekarang
sudah lewat masa kejayaannya. Faktanya, kini di Indonesia
sendiri terdapat hampir 20 juta pengguna internet, yang meningkat
ratusan persen (bahkan hampir ribuan persen) sejak tahun 2000
lalu, didukung oleh infrastruktur pembayaran, security dan yang
terutama adalah open minded dari penggunanya, tahun 2008 bisa
dikatakan merupakan tahap awal bangkitnya berbagai transaksi
online dan ecommerce, terlebih lagi dengan dicanangkannya UU
hak cipta dan pengaturan transaksi online di dalam negeri.
-
Mitos
#4: Pasar
online sudah penuh & crowded dengan persaingan.
Memang benar bila kita melihat banyak orang yang berlomba-lomba
mengiklankan produk/jasa dan bentuk referal ID di situs sejenis
iklan baris, forum, hingga melakukan spamming. Namun hal yang
Anda lihat tersebut adalah hanya sebuah sisi kecil dari area
yang sangat luas. Jika Anda pernah ketahui prinsip Blue
ocean strategy, dimana kita dapat memperoleh
peluang yang baik bila dapat menemukan 'blue ocean' dimana belum
ada pesaing yang ada di pasar yang akan dijelajahi, dibandingkan
dengan 'red ocean'
yaitu pasar yang telah berdarah-darah karena persaingan yang
ketat dan tidak sehat (seperti perang harga operator seluler
yang belakangan ini kita saksikan). Jadi, pada market online
akan selalu ada area 'blue ocean' yang harus kita temukan dan
eksplorasi, sehingga kita dapat bergerak dengan bebas dengan
persaingan minim dan menguntungkan.
-
Mitos#5:
Internet
adalah sumber kejahatan, plagiat dan pembajakan. Dengan
banyaknya fraud, kejahatan dan penipuan di dunia maya,
bagaimanakah kredibilitas internet pada saat ini dan masa depan?
Bila diumpamakan, internet bagaikan sebuah sebuah jalan bebas
hambatan, sementara itu manusia dengan pc-nya bagaikan kendaraan
yang melintas.. sehingga dengan tujuan yang benar dan kemampuan
mengemudi yang baik, kendaraan bisa melaju di jalan bebas hambatan
untuk mengantarkan pengemudi dan seluruh penumpang mencapai
tempat tujuan dengan lebih cepat, praktis dan nyaman, namun
sebaliknya, tanpa tujuan dan kemampuan mengemudi yang baik,
sebuah kendaraan memang dapat membahayakan orang lainnya.
Jadi berdasarkan perumpamaan ini, kita sebaiknya memahami peta
penggunaan media dan teknologi yang ada, yaitu bagaimana cara
pemanfaatannya guna kepentingan diri sendiri dan dapat memberikan
manfaat positif bagi orang lain. Mengenai pembajakan, coba simak
kondisi yang dialami para musisi dan penyanyi di tanah air,
walaupun didera oleh pembajakan yang membabi buta di tanah air,
ternyata para musisi dan penyanyi di Indonesia tetap mampu mengantongi
pendapatan yang tidak sedikit dari karya lagu yang dihasilkan,
beberapa (bahkan banyak) diantara mereka bahkan tetap kaya raya
walaupun pembajakan tetap terjadi.
- Baca
juga artikel dari detik.com
mengenai phase perkembangan internet
Anda
dapat menutup window ini atau kembali ke halaman
utama |